Arjuna Zaahirulhaq

Arjuna ZaahirulhaqPagi itu tanggal 09 November 2013 pukul 07.00, lorong rumah sakit itu masih sepi hanya ada aktivitas beberapa perawat rumah sakit  yang berlalu lalang untuk menangani pasien yang sedang bersiap untuk lahiran. Suasana rumah sakit itu masih sepi dan tenang seperti perasaan hati ayah yang masih tidak karuan dan tidak sabar untuk melihat sosok bayi hebat yang akan jadi kebanggan ayah dan bunda kelak.

Sudah tiga kali ayah mondar mandir di lorong itu, mata ayah hanya tertuju pada ruangan kaca yang tertutup gorden. Ada tulisan baby show ~ pukul 10.00 , ayah perhatikan jam saat itu masih pukul 09.45 , masih kurang 15 menit memang. Tidak sabar rasanya ayah ingin melihatmu nak, 10 jam perjalanan memang lama tapi semua itu ayah lakukan hanya untuk bisa menggendongmu, menciummu. Kondisi ibumu saat itu masih lemah sehingga ayah tidak bisa meninggalkan ibumu begitu saja.

Pukul 10.00 sudah tiba, ayah mencoba menelusuri lorong itu lagi. Terlihat ada 3 orang laki-laki mengikuti ayah, ayah rasa mereka juga merupakan sosok ayah yang sudah tidak sabar ingin melihat anaknya yang sedang berada diruangan steril itu.

Tapi waktu sudah menunjukkan pukul 10.10 gorden yang berada di balik jendela kaca itu belum juga dibuka. Ayah dan 3 orang ayah tadi spontan saling berpandangan sambil mengkerutkan kening seperti ada yang ganjil, kenapa hingga sekarang gorden tersebut belum dibuka.

Karena tidak ada yang bertindak, ayah memberanikan untuk untuk bertanya kepada perawat yang bertugas yang piket pada saat itu. “Assalamu’alaikum Buk, sudah jam 10 lewat kenapa gordennya belum dibuka ya ?” , tau tidak nak, saat itu juga ibu perawat langsung beranjak dari kursinya kemudian langsung masuk keruangan baby shop hehe. Ayah hanya bisa tertawa dalam hati akan tetapi malaikan membisikkan kepada ayah, “Mungkin ibu perawat itu kelelahan sehingga lupa kalau jam 10.00 itu ada pertunjukkan bayi ( baby shop )”.  Tetap Khusnuzon ya nak J

Ayah langsung bergegas mengambil posisi terdekat dengan kaca dengan tujuan agar ayah bisa lebih dekat dengan dirimu. Jantung ayah saat itu memang berdetak kencang karena ayah hanya baru bisa melihatmu lewat camera hp.

Terlihat kumpulan bayi mungil dibariskan berjajar diatas kasur bayi, hingga mata ayah tertuju pada satu bayi yang saat itu dalam posisi diam tanpa menangis, seperti bayi yang disebelahnya.

Senang rasanya ayah bisa melihatmu saat hari ke-1 dirimu dilahirkan kedunia, senang rasanya dan air mata ini ingin keluar saat melihat tubuh mungilmu dibalik kaca baby-show, awalnya dirimu tidak menangis tetapi setelah ayah mencoba mendekat spontan dirimu menangis. Napas ayah saat itu langsung sesak dan seperti tidak bisa bernapas, itu kali pertama ayah bisa mendengar tangisanmu. Tangisan Arjuna Zaahirulhaq putra dari Aulia Rahman dan Putik Rarasanty, putra pertama, karunia terindah, hadiah terbaik yang diberikan oleh Tuhan.

Arjuna Zaahirulhaq-2

Nak, mungkin memang ayahmu ini bukan orang pertama yang bisa menggendongmu. Terkadang prediksi manusia itu berbeda dengan prediksi hati akan tetapi prediksi hati harus diikuti dengan ikhtiar. Itulah yang disebut dengan Sabar, Ikhtiar dan Ikhlas – “Manusia bertindak Alloh berkehendak”.

Ayah ingat saat kami menggendongmu secara bergantian, ayah mencium pipi kiri dan kanan, kemudian keningmu, mengelus rambut, memegang kamimu, melihat jari-jari mungilmu dan tak henti memperhatikan wajahmu sementara ibumu begitu bersemangat untuk memberikanmu ASI. Bunda begitu sangat ingin memberikanmu ASI akan tetapi mungkin karena baru pertama jadi ASI bunda tidak berhasil keluar sempurna, hanya sedikit.

~ Bersambung ^__^

Advertisements

About Aulia Rahman

Melatih kepribadian diri dengan menulis, karena dengan menulis bisa mengajarkan kita cara bersikap, berbicara, dan bersilaturahim.
This entry was posted in my dream, ~AZ and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Arjuna Zaahirulhaq

  1. Cerita yang menraik dari Arjuna 🙂
    Ditunggu sambungan ceritanya, Bang Aul :))

  2. wah mirip cerpen nulisnya. menarik.. menarik dan indah

  3. Senang bisa melihat seorang anak lahir kedunia apalagi kita berada disisi seorang istri yang dengan kuat melawan maut demi lahirnya sibuah hati. Kebahagiaan seorang ayah adalah melihat anak dan istri sehat dan selamat. Alhamdulillah..
    Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s